
SAMARINDA, Humas Unmul. Rencana pembangun jalan tol di Kaltim menjadi bahasan hangat di Coffe Morning. Fakultas Ekonomi Universitas Mulwarman (Unmu) bekerjasama dengan Kadin Kaltim, Bank Indonesia serta Surat Kabar Harian Tribun Kaltim mengulitinya guna mengetahui kamampuan Kaltim membangun jalan tol.
Acara yang digelar di lantai III Dekanat Fekon Unmul, Sabtu (17/1), dihadiri Dekan Fekon Unmul, Prof. Drs. H. Zamruddin Hasid, SE., SU, Kabid PSDA dan Praswil Bappeda, Zairin Zain, Kabiro Keuangan Pemprov, Hazairin, Wakil Ketua Umum Kadin Kaltim, HR Daeng Naja, Perwakilan Bank Indonesia (BI) Samarinda, Guntur, dan Pakar Ekonomi Kaltim, Drs Aji Sofyan Effendi, Msi.
Kabid PSDA dan Praswil Bappeda, Zairin Zain mengungkapkan kajian pembangunan jalan tol sudah dilakukan sejak tahun 2002-2003. Bahkan pembebasan lahan sudah dilakukan sejak tahun 2009 yang menelan dana awal 20 milyar rupiah. Jika melihat pengalaman Kaltim yang mampu menyelenggarakan PON dengan dana 4 Triliun maka pemprov optimis pembangunan jalan tol dengan estimasi dana 5,1 triliun dapat direalisasikan. “PON saja bisa, mengapa tol tidak,” ungkap Zairin.
Zairin menambahkan untuk mengatasi keterbatasan anggaran maka Pemprov Kaltim akan melakukan tukar guling SDA baik berupa semen dan batubara. “Dari hasil kajian Pemprov Kaltim, pola pembiayaan ini tidak akan menggangu APBD Kaltim. Beberapa provinsi di Indonesia sudah ada yang melakukan pola pembiayaan seperti ini.
Terkait pola pembiayaan, Perwakilan BI Samarinda, Guntur menilai Kaltim tidak perlu bingung soal pendanaan. Selain tukar guling SDA masih ada pola pembiayaan lain yang dapat dilakukan Pemprov Kaltim seperti pembentukan holding company yang mengelola seluruh SDA di Kaltim. “Sahamnya dilimiliki pemerintah propinsi, kabupaten/kota di Kaltim. Hasilnya 100 persen untuk infrastruktur,” katanya.
Pemprov, saran Guntur, harus berkordinasi dengan seluruh stakeholder yang ada di Kaltim. “Stakeholder harus membuat perencanaan setelah adanya jalan tol. Jangan setelah ada jalan tol baru berpikir mau buat apa. Kalau begini, kesempatan adanya jalan tol diambil pihak luar. Ekonomi derivatifnya tidak ada bagi Kaltim,” saranya.
Daeng Naja, Wakil Ketua Umum Kadin Kaltim, justru pesimis dengan pola pembiayaan tukar guling SDA. “Ada perbedaan mendasar cara berpikir pemerintah dengan pengusaha. Investor hitungannya untung rugi,” kata Naja sambil mewacanakan pola pembiayaan dengan obligasi daerah. Sedangkan Aji Sofyan Effendi justru menyoroti political will esekutif dan legislatif.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar